Kunci Selamat Dari Adzab Kubur yang Dahsyat
Kehidupan di dunia yang amat singkat ini yakni merupakan pecahan dari perjalanan insan yang amat panjang. Meninggal dunia yakni masalah yang pasti. Setelah itu dilanjutkan dengan tinggalnya seseorang di alam kubur hingga tegaknya hari kiamat. Dalam kubur, terdapat suatu adzab yang tersendiri, di antaranya yaitu pukulan yang dahsyat, himpitan tanah hingga tulang rusuknya berselisih, panas yang memenuhi ruang kuburnya, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih. Dalam masa penantian ini, tentu saja setiap orang menginginkan untuk selamat dari adzab yang ada dalam kuburnya. Semoga Allah melindungi kita semua dari adzab kubur.
berikut ini yakni beberapa masalah yang sanggup menyelamatkan seseorang dari adzab kubur, antara lain yaitu[1] :
1. Membaca Surat Tabarak Setiap Malam
Hal Itu Berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Surat Tabarak yakni pelindung dari Adzab Kubur.”[2]
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Barangsiapa yang membaca Tabarakalladzi Biyadihil Mulku setiap malam, maka Allah Ta’ala akan menahannya disebabkan oleh bacaan tersebut dari adzab kubur. Kami -pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menamainya al-Mani’ah (penahan). Ia dalam Kitabullah yakni sebuah surat yang barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka dia telah banyak dan berbuat baik.[3]
2. Menjaga Diri Dari Percikan Air Kencing
Meninggalkan bersuci dari najis sesudah buang air kecil dan tidak berhati-hati dengannya sehingga mengenai anggota tubuh atau pakaian yakni perkara terbanyak yang menyebabkan seseorang mendapat adzab kubur. Dalilnya yakni sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Kebanyakan adzab kubur itu yakni disebabkan oleh air kencing.”[4]
Imam al-Munawi rahimahullah berkata, “Maksudnya yakni bahwa kebanyakan adzab kubur itu yakni disebabkan oleh perilaku meremehkan dalam menjaga dari air kencing.”[5]
3. Menjauhi Perbuatan Namimah (Mengadu Domba)
Berlaku mengadu domba sesama insan yakni termasuk lantaran diadzabnya seseorang di alam kuburnya. Hal itu berdasarkan hadits berikut :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua buah kuburan, kemudian dia bersabda, “Sesungguhnya keduanya yakni sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab disebabkan masalah yang (tampak) besar. Adapun salah satunya tidak bersuci dikala buang air kecil, sedangkan orang yang kedua yakni dahulunya berjalan dengan melaksanakan namimah (adu domba)”
Kemudian dia mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian dia membelahnya menjadi dua bagian, kemudian dia menancapkan pada masing-masing kuburan tersebut sebatang. Mereka (yaitu para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melaksanakan hal itu?”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Semoga adzab kubur itu menjadi diringankan atas keduanya selama kedua batang tersebut belum kering.” [6]
4. Meninggalkan Perbuatan dan Perkataan yang Mengandung Ghibah (Menggunjing)
Hal itu menurut sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya keduanya sedang diadzab, dan keduanya tidaklah diadzab disebabkan oleh masalah yang tampak besar, adapun salah satunya yakni diadzab disebabkan oleh air kencing, sedangkan yang kedua yakni diadzab disebabkan oleh ghibah.”[7]
Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maksiat yang menyebabkan adzab pada hari simpulan zaman ada dua macam yaitu hak Allah Ta’ala dan hak hamba-hambaNya.
Perkara pertama yang diadili pada hari simpulan zaman dari jenis hak-hak Allah Ta’ala yakni sholat, sedangkan dari jenis hak-hak hamba yakni duduk masalah darah.
Adapun di alam barzakh, maka masalah yang diadili pertama kali yakni muqaddimah (pendahuluan) dari dua hak ini dan sarana-sarananya.
Jadi, muqaddimah sholat yakni bersuci dari hadats dan najis, sedangkan muqoddimah duduk masalah darah yakni namimah (perbuatan mengadu domba) dan merendahkan kehormatan. Dua masalah ini yakni berupa gangguan yang paling ringan (dalam hal pelanggarannya), oleh lantaran itu perhitungan dan adzab di alam barzakh dimulai dengan keduanya.” [8]
5. Tidak Berwasiat Agar Diadakan Niyahah (Ratapan) Setelah Meninggalnya
Berwasiat kepada orang lain biar menyesali kematiannya yakni merupakan perbuatan yang diharamkan dan sanggup menyebabkan diadzabnya seseorang dalam kuburnya. Dalilnya yakni sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mayyit (orang yang telah meninggal) itu diadzab di alam kuburnya disebabkan oleh ratapan atasnya.” [9]
Imam al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Bab adzab kubur yang dikhawatirkan akan menimpa disebabkan oleh ratapan untuk mayyit. Sebagian hebat ilmu berkata, ‘Hal itu apabila (orang yang meninggal dunia) berwasiat biar dirinya diratapi sesudah mati’.”[10]
6. Selalu Berada Dalam Keadaan Suci Ketika Sholat
7. Menolong Orang yang Terdhalimi
Kedua masalah ini menurut sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Ada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang dipukul di kuburnya sebanyak seratus cambukan. la terus-menerus memohon dan berdoa biar pukulannya hanya satu kali saja, maka kuburnyapun menjadi penuh dengan api. Ketika telah diangkat dan tersadar, maka ia berkata, “Mengapa engkau memukulku ?” Maka dijawab, “Sesungguhnya engkau pernah telah melewati orang yang terdzolimi, akan tetapi engkau tidak menolongnya.”[11]
8. Bersedekah
Bersedekah yakni sanggup menyelamatkan dari adzab kubur. Dalilnya yakni sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya sedekah itu benar-benar sanggup memadamkan panasnya kubur dari orang yang menghuninya. Dan seorang mukmin itu hanyalah bernaung pada hari simpulan zaman di bawah naungan sedekahnya.” [12]
9. Amal-amal Sholih Seperti Sholat, Puasa, Kebaikan Dan Sebagainya
Hal itu menurut sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “sesungguhnya jenazah itu apabila diletakkan di dalam kuburnya, maka ia mendengar bunyi sandal-sandal mereka dikala mereka berpaling darinya. Apabila dia yakni orang yang beriman, maka sholat itu berada di samping kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat di sebelah kirinya, dan perbuatan baik menyerupai shadaqah, shalat, perbuatan ma’ruf, perbuatan ihsan kepada insan berada di kedua kakinya. Lalu didatangi dari arah kepalanya, maka shalat berkata, “Tidak ada kanal dari arahku”. Lalu didatangi dari sebelah kanannya, maka puasa mengatakan, “Tidak ada kanal dari arahku”, kemudian didatangi dari sebelah kirinya, maka zakat berkata, “Tidak ada kanal dari arahku “. Lalu didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik yang berupa sedekah, shalat, perbuatan ma’ruf dan ihsan kepada insan mengatakan, “Tidak ada kanal dari arahku”. Lalu dikatakan kepada orang tersebut, “Duduklah”. …[13]
10. Membaca al-Qur’an
11. Berjalan menuju masjid
Membaca al-Qur’an dan melangkah menuju masjid untuk beribadah didalamnya yakni merupakan masalah yang sanggup menyelamatkan dari adzab kubur. Hal itu menurut sabda dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Seseorang didatangkan di dalam kuburnya. Apabila dia didatangi dari arah kepalanya, maka bacaan al-Qur’an membelanya. Apabila didatangi dari arah kedua tangannya, maka sedekah membelanya. Apabila didatangi dari arah kedua kakinya, maka langkah orang itu ke masjid-masjid membelanya.”[14]
12. Berlindung dari adzab kubur
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya biar berlindung dari adzab kubur. Perintah tersebut tidak hanya sekali, bahkan berulang-ulang dalam beberapa keadaan yang ditemui oleh seorang muslim setiap harinya. Di antaranya yakni :
a. Setiap selesai tasyahhud akhir.
Hal itu menurut sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari bertasyahhud akhir, maka mintalah sumbangan kepada Allah dari empat perkara: dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari keburukan fitnahnya Dajjal al-Masih. “[15]
b. Pagi dan petang
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berada pada waktu petang dia membaca : Kami berada pada waktu petang, sedangkan kekuasaan yakni kepunyaan Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, saya memohon kebaikan malam ini dan berlindung dari keburukan malam ini dan keburukan apa-apa yang ada setelahnya. Ya Allah, sebenarnya saya berlindung kepadaMu dari kemalasan dan buruknya masa tua. Ya Allah, sebenarnya saya berlindung kepadaMu dari adzab di Neraka dan adzab di kubur. ” [16] Dzikir pagi dan petang sanggup dilihat Disini. [17]
Demikianlah sebagian di antara perkara-perkara yang sanggup menyelamatkan kita semua dari adzab kubur. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua darinya. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.
[Disalin kembali dari Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah, volume 8, nomor 11, Edisi 65, tahun 1431.H/ 2010.M]
[1] Pembahasan ini merujuk kepada: At-Taitzkiroli bi Ahwaal al-Mautaa wa Ul)luur alAkhiroh, karya Imam al-Qurthubi (w. 671 H), jilid 1, hal. 392-405, tahqiq Dr. Shaadiq bin Muhammad, Maktabah Darul Minhaaj, Riyadh, cet. 1, 1425 H, Ahwal al-Qubuur wa Ahwaalu Ahliha 11aa an-Nus tiur, karya Ibnu Rajab al-Hambali, takhrij dan ta’liq Kholid Abdullathif, Darul Kitab al-Arobi, cet. 3,1414 H/1994 M, hal. 85-93, Itsbat Adzab al-Qabr, karya al-Baihaqi, tahqiq Dr. Syaraf Mahmud, Darul Furcloon, Amman, Yordania, cet. 3,1413/1992 dan Adzab al-Qobr, karya Muhammad in Abdul Wahhab al-Wishaabi, hal. 31-50.
[2] Shohih al-jaami’, no. 3643, Syaikh al-Albani berkata, “Shohih”
[3] Shohih at-Targhib wa at-Tarhiib, no. 1589, jilid 2, hal. 253. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hasan”).
[4] Shohih al-jaaini’, no. 3971, dan Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Shohih”
[5] Faidh al-Qodiir, jilid 4, hal. 299, Darul Ma’rifah, Beirut
[6] HR. Bukhari, no. 218 dan Muslim, no. 292
[7] Shohih al-jaami’, no. 2441, Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Shohih”
[8] Ahwaal al-Qubuur wa Ahliha Ila an-Nusyuur, hal. 89
[9] HR. Bukhari, no. 1292 dan Muslim, no. 927
[10] Itsbaat Adzaab al-Qobr, hal. 91
[11] Shohih at-targhib, no. 2234, Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hasan Lighorii”
[12] Ash-Shohihah, no. 3484
[13] Shohih at-Targhib, no. 3561, Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hasan”
[14] Shohih atTarghib wa at-Tarhib, jilid 3, hal. 405. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hasan”
[15] HR. Muslim, no. 588
[16] HR. Muslim, no. 2723
[17] Penambahan dari Belajar Islam
Sumber: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/
